Maha Vihara Mojopahit Mojokerto

Maha Vihara Mojopahit Mojokerto

Maha Vihara Mojopahit Mojokerto – Mojokerto adalah salah satu kabupaten yang ada di Jawa Timur. Sebagaimanan kita tahu bahwa Mojokerto merupakan pusat kerajaan majapahit pada zama dahulu kala. Kerajaan majapahit yang bernah jaya dan mashur pada masanya itu kini tinggal kenangannya saja. Kenangan yang bisa kita saksikan hingga saat ini setelah ratusan tahun yang lalu adalah banyaknya peninggalan seperti situs, kolam, dan beberapa semboyan yang digunakan oleh bangsa Indonesia.

Kawasan Mojokerto yang kaya dengan peninggalan prasejarah ini adalah di kecamatan Trowulan, jadi bila anda ingin melihat bagaiman benda-benda yang pada masa itu pernah dibangun ataau dibuat silahkan datang ke sana. Sekarang anda pun bisa melihat kampung majapahit di Mojoketo yang kini sedang dikembangkan oleh PenProv Jatim, pembangunannya sudah dimulai pada tahun 2014. Selain rumah ala majapahit dan candi-candi yang bisa anda jumpai di daerah Trowulan, sobat juga akan menemukan Maha Vihara Mojopahit Mojokerto.

Maha Vihara Mojopahit Mojokerto, tampat ini dibangun mungkin dulunya mojopahit yang pernah ada di bumi Mojokerto ini yang kental dengan agamanya yaitu Hindu dan Budha. Bukan hanya itu, perkembangan agama tersebut cukup subur pada masa kedigdayaannya kerajahan besar tersebut. Ketika Kerajaan majapahit hancur begitu juga dengan turunnya agama Hindu dan Budha tersebut.

Saat ini penganut agama Hindu dan Budha di Mojokerto hampir tidak ada, namun ini tidak menjadi persoalan dimana pembangunan Maha Vihara Mojopahit Mojokerto dilaksanakan. Meskipun di daerah Mojokerto tersebut mayoritas penduduknya adalah beragama Islam mereka tidak menolak jika tempat tersebut dibangun Maha Vihara Mojopahit. Sebagaimana yang saya sebutkan diatas, mungkin Maha Vihara Mojopahit ini dibangun karena dulunya daerah tersebut merupakan pusat agama Hindu dan Budha pada masa kerajaan Majapahit.

Sebelum dibangun Maha Vihara Mojopahit ini, ada seorang pengut kebatinan Bhante Viryanadi yang pada tahun 1983 menjadi samenara. Katanya sebelum dia manjasi bhikkhu, dia telah menganut aliran kebatinan. Di mengunjungi berbagai tempat keramat untuk menyendiri dan bertapa. Pada tahun 1983 dia lelaku atau bertapa di siti inggil daerah Mojokerto. Siti Inggil ini banyak didatangi oleh peziarah. Dalam laku pertapaannya di hari ketiga, dia mendapat firasat agar berjalan ke arah selatan.

Setelah sampai di tempat Maha Vihara Mojopahit ini dibangun, dia melihat beberapa pohon jati yang ukurannya besar, dan lokasinya tertutup oleh anyaman mambu (jawa disebut dengan “gedek”). Kemudian Bhante mengintip ke dalam, ternyata didalamnya terdapat buah kedondong. Setelah itu, Bhante merasa mendapat petunjuk, kemudia bercerita dan mengundang gurunya untuk turut melihat lokasi tersebut. Setelah guru Bhante melihat, dia berkata tempat ini harus dibangun vihara.

Karena tanah tersebut adalah milik perorangan, Bhante langsung mencari si pemilik tanah. Kebutalan pemilik tanah tersebut adalah penganut agama Budha juga yaitu ibu Madris. Kata dia suami saya juga dulunya penganut agama Budha pada hidupnya, jadi kalau misalnya tempat ini mau dibangun vihara yang silahkan, sementara masalah bayar tanah, terserah.


Setelah itu, Maha Vihara Mojopahit ini dibangun kalau tidak salah tahun 1987, kemudian peresmiannya pada tahun 1989 yang ditepatkan pada Budha Jayanti tanggal 31 Desember. Maha Vihara Mojopahit ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur dan Bhante Ashin Jinarakkhita. Bhante mengatakan bahwa ia berani membangun Maha Vihara Mojopahit karena di tanah tersebut merupakan tanah leluhurnya dan menjadi pulasa agama leluhurnya. Jadi ia merasa berkewajiban untuk mengembangkan agama Budha tersebut sebagaimana pada masa kerajaan Majapahit. Hal ini juga berdasarkan ramalan yang mereka percayai yaitu Sabdo Palon dan Noyogenggong.

Walaupun Maha Vihara Mojopahit ini merupakan tempat ibadah umat Budha, tetapi warga setempat yang mayoritas tidak menganut agama tersebut juga tidak menolah didirikan vihara. Bahkan meraka menunggu diresmikannya Maha Vihara Mojopahit tersebut. Termasuk seorang kakek-kakek yang sudah berumur 83 tahun, dia berkata tidak mau meninggal sebelum menyaksikan peresmian Maha Vihara Mojopahit Mojokerto.

Konsep yang diterapkan pada bangunan vihara adalah berdasarkan budaya jawa yaitu berbentuk joglo. Bangunan ini terdiri dari 3 atlar, yang utama diberikan rupang yang menyerupai atau duplikasi Budha Gautama seperti di candi Borobudur. Sementara bangun ini mengandung makna ajaran budha, sementara empat soko guru melambangkan 4 kesunyatan mulia, jalan utama dilambangkan dengan 8 tiang, terdapat tangga lima yang melambangkan pancasila Buddhis, Tiranata dilambangkan dengan genteng.

Setelelah itu, Bhante mengusulkan kepada pemerintah agar di kawasan Trowulan juga dibangun perumahan dengan khas Majapahit. Usulan Bhante pun disetujui oleh pemerintah, sehingga pada tahun 2014 mulai dilaksanakan pembangunan perumahan yang berkonsep kuno gaya majapahit denga pagar yang diberikan lambang kerajaan Majapahit tempat sering disebut dengan Kampung majapahit Mojokerto. Pembangunan perumahan ini juga mendapat subsidi dari pemerintah.

Tidak lama setelah dibangunnya Maha Vihara Mojopahit, dibangun juga patung Budha tidur atau patung Budha Gautama yang ukurangnnya terbesar di Indonesia. Patung Budha tidur ini dibangun dengan panjang 22 meter, tinggi 4.5 meter, lebarnya 6 meter. Patung ini sempat meraih rekor MURI dan memperoleh penghargaan di tahun 2001. Patung ketiga terbesar di Asia ini menjadi pelengkap Maha Vihara Mojopahit Mojokerto.

Nah, tempat ini saat ini menjadi tempat wisata yang kerap di sambangi oleh pengunjung baik wisatawan dari Mojokerto sendiri maupun dari luar Mojokerto. Bila sobat ingin berfoto selfie dengan latar budha tidur, sobat tidak perlu pergi keluar negeri cukup datang ke Mojokerto.



Contact Us

Name

Email *

Message *

Back To Top